Archive for Juli 13, 2007

Pelajaran Dari Mendirikan Perusahaan Start-Up: Lessons Learned from Starting-Up1

>> Pelajaran Dari Mendirikan Perusahaan Start-Up: Lessons Learned
> from Starting-Up1
>>
>> Budi Rahardjo2
>> PT INDO CISC
>> e-mail: budi@…
>> Juni 2003
>>
>> Akhir-akhir ini banyak orang berbicara tentang entrepreneurship.
> Mahasiswa digiring untuk menidirikan usaha sendiri dengan iming-
> iming menjadi Bill Gates kedua. Apakah semudah itu? Jika memang
> semudah itu, mengapa kita belum mendengar cerita sukesnya? Tulisan
> ini mencoba menceritakan suka dukanya membuat usaha sendiri, atau
> yang dikenal dengan istilah mendirikan start-up. Tulisan ini
> berdasarkan kepada pengalaman penulis yang mungkin tidak dapat
> digeneralisir menjadi kaidah umum dalam perjalanan mendirikan
> perusahan. Paling tidak, tulisan ini mencoba menceritakan pelajaran
> yang penulis peroleh. Untuk itu tulisan ini tidak terlalu formal.
>>
>>
>> Daftar Isi
>>
>>
>> Awal Perjalanan
>>
>>
>> Bagian ini akan menceritakan awal perjalanan saya dalam
> mengembangkan start-up, yaitu ketika di Kanada.
>>
>>
>> Software & hardware house: Iqra Biomedical
>>
>>
>> Keinginan saya untuk mendirikan perusahaan dimulai ketika saya
> mengambil pendidikan S2 dan S3 di Kanada. Kala itu saya memiliki
> beberapa teman dari berbagai jurusan; electrical engineering,
> computer science, dan dari kedokteran. Salah seorang dari mereka
> pernah ditugasi dosennya untuk membuat program untuk melakukan
> diagnosa pasien. Program tersebut mengimplementasikan sebuah expert
> system dan mencoba menganalisa penyakit yang diderita oleh pasien
> berdasarkan data-data yang diberikan oleh pasien tersebut. Kami
> pikir program ini bisa diteruskan menjadi sebuah program komersial.
> Selain itu rekan-rekan di kedokteran juga telah menggunakan alat-
> alat elektronik untuk melakukan operasi. Mereka adalah dokter-dokter
> muda yang terbiasa menggunakan komputer (e-mail dan sejenisnya).
> Kemudian timbul ide untuk mengkomputerkan perangkat laparoscopy.
> Dengan modal dua ide ini kami sepakat untuk membuat sebuah usaha
> bersama dengan nama Iqra Biomedical. Modal kami tidak banyak karena
> sebagian besar kami adalah mahasiswa, apalagi saya mahasiswa asing
> yang notabene keuangannya pas-pasan.
>>
>> Langkah pertama yang kami lakukan adalah mendokumentasikan semua
> yang kami miliki dan melakukan pencarian informasi (riset) awal.
> Setelah itu kami menghubungi sebuah institusi yang bernama IRAP,
> Industrial Research Assistance Programme yang merupakan bagian atau
> program dari National Research Council. Misi dari IRAP ini adalah
> membantu industri kecil dan menengah dalam mengembangkan
> kemampuannya di bidang teknologi dan inovasi. Saya lupa berapa yang
> harus kami bayar kepada IRAP waktu itu, mungkin CAN$ 500? (ataukah
> CAN $100?). Yang saya ingat adalah biayanya terjangkau. Kami
> berkonsultasi dengan IRAP tentang kemungkinan teknologi dan bisnis
> kami itu. IRAP kemudian melakukan risetnya dan memberikan hasilnya
> dalam bentuk sebuah dokumen. Dalam dokumen tersebut ditunjukkan
> potensi dari bisnis, kelemahan dari bisnis kami, kompetitor kami,
> pakar-pakar di Kanada yang dapat dihubungi untuk melakukan
> konsultasi teknologi, dan hal-hal lain yang sangat membantu kami
> dalam memfokuskan diri. Kami juga diberi kesempatan untuk banyak
> melakukan konsultasi. Berdasarkan masukan ini, kami meneruskan untuk
> melakukan usaha tersebut. Sebagai catatan, inisiatif seperti IRAP
> ini belum ada di Indonesia. Ataupun kalau ada, saya belum pernah
> mengetahui.
>>
>> Sayangnya dalam perjalanannya usaha kami ini tidak berhasil karena
> beberapa hal, antara lain:
>>
>> * Kami kehabisan dana (untuk menggaji seorang programmer untuk
> melakukan dokumentasi requirement engineering dan menyewat tempat di
> basement rumah). Dugaan kami bahwa pekerjaan dapat selesai dalam
> waktunya ternyata molor.;
>> * Komitmen dari calon pembeli alat (laparoscopy) masih belum
> ada karena alat tersebut terlalu advanced waktu itu (sekarang sudah
> ada yang mencobanya di Itali). Kami mempresentasikannya di depan
> dokter-dokter di sebuah rumah sakit umum di kota kami. Mereka masih
> belum dapat menangkap konsepnya. We were ahead of its time;
>> * Biaya untuk melakukan pengujian di bidang medical sangat
> mahal (karena menyangkut manusia sehingga harus hati-hati); Kami
> harus mendatangkan pakar dari beberapa kota untuk mengevaluasi
> produk jika sudah jadi. Ini terlalu mahal.
>>
>> Akibatnya usaha tersebut berhenti di tengah jalan. Namun kami akan
> mencobanya kembali. Sampai sekarang belum terlaksana.
>>
>>
>> ISP: Canada Overdrive Online
>>
>>
>> Tahun 1995 Internet mulai boleh digunakan untuk keperluan
> komersial. Akses ke Internet mulai dibuka untuk masyarakat umum.
> Mulailah muncul industri akses Internet yang dikenal dengan nama
> Internet Service Provider (ISP). Akhirnya kami pun mendirikan
> perusahaan ISP dengan nama Canada Overdrive Online (COOL) yang
> dimulai dari basement rumah dengan modal sebuah komputer, sebuah
> modem, dan sebuah koneksi ISDN. Sebagai catatan, waktu itu belum ada
> satu ISP yang sangat dominan seperti AOL saat ini. AOL masih kecil
> akan tetapi tumbuh dengan cepat. Waktu itu kami berharap dapat
> menjadi AOL-nya Kanada. Itulah sebabnya nama usahanya agak nyerempet
> AOL.
>>
>> Semenjak Netscape sukses besar dengan IPO (Initial Public
> Offering) di bursa saham, banyak orang yang ingin mendirikan
> perusahaan high-tech dan kemudian melaju ke IPO. Inilah awal dari
> munculnya “dotcom”. Usaha kami pun mulai diminati oleh beberapa
> orang di komunitas. Mulailah kami membuat dokumen bisnis, meresmikan
> bisnis (incorporated), dan menjual saham diantara “friends and
> family”. Terus terang kami tidak mengetahui teori-teori bisnis
> (khususnya start-up) yang kemudian mulai muncul. Bisnis kemudian
> meningkat sehingga kami harus pindah ke sebuah ruko dengan menyewa
> saluran telepon yang lebih banyak.
>>
>> Namun nampaknya bisnis ISP tidak semudah yang disangka. Persaingan
> sangat ketat dan diperlukan investasi terus menerus karena kemajuan
> teknologi. Modem yang tadinya hanya 9600 bps, harus diganti ke 33,6
> kbps. Baru selesai pergantian (investasi), harus diganti lagi dengan
> 56 kbps. Implikasinya adalah keuntungan tak kunjung datang karena
> keuntungan harus diinvestasikan kembali. Bahkan untuk menjaga agar
> kompetitif dan break even, kami harus meningkatkan jumlah saluran
> telepon.
>>
>> Pada akhirnya bisnis kami ini harus kami jual kepada orang lain
> karena kami tidak mampu mengurusi sisi bisnisnya. Kami kebetulan
> adalah orang-orang teknis yang melihat kesempatan (opportunity),
> akan tetapi tidak memiliki latar belakang bisnis yang cukup kuat
> untuk menghadapi tantangan bisnis.
>>
>> Pelajaran yang saya peroleh dari bisnis ini:
>>
>> * Bisnis ISP merupakan bisnis yang tidak terlalu
> menguntungkan. Itulah sebabnya saya cukup heran ketika kembali ke
> Indonesia dan banyak orang ingin mendirikan ISP. Saya berikan saran-
> saran berdasarkan pengalaman saya. Namun iming-iming untuk menjadi
> sukses lebih dominan.
>> * Bisnis yang sangat ditentukan oleh teknologi seperti ini
> harus selalu merencanakan perkembangan teknologi agar tidak
> melakukan investasi terus menerus dan tidak kunjung break-even.
>> * Sebaiknya bisnis dijalankan oleh orang yang mengerti bisnis,
> bukan oleh techie (orang teknis). Atau, jika sang techie ingin
> menjalankannya, maka dia harus mengerti bisnis. Atau, mungkin
> pelajaran bisnis dimasukkan sebagai bagian dari kurikulum pendidikan
> teknis.
>>
>>
>> Web hosting: Iscom
>>
>>
>> Model bisnis berikutnya yang mulai berkembang waktu itu adalah web
> hosting. Maka saya pun tidak ketinggalan. Beserta kawan-kawan
> (sesama mahasiswa Indonesia yang besekolah di luar negeri) yang
> tersebar di berbagai penjuru dunia mulai berkeinginan untuk terjun
> ke usaha web hosting lengkap dengan programmingnya dengan nama
> Iscom. Lagi-lagi dimulai dari mengumpulkan dana sesama mahasiswa
> Indonesia.
>>
>> Sayangnya bisnis ini juga gagal. Bagi saya sangat berat untuk
> mempertanggung-jawabkan hilangnya uang rekan-rekan yang dititipkan
> di bisnis ini. Kali ini kegagalan disebabkan oleh:
>>
>> * Tidak adanya yang mau menekuni sisi bisnis. Kala itu saya
> sendirian menjalankan hampir semuanya, mulai dari setup sistem
> sampai ke marketing;
>> * Waktu itu belum banyak orang Indonesia yang mengenal
> Internet, apalagi web hosting. Lagi-lagi, kami terlalu advanced;
>> * Model bisnis dari web hosting ternyata juga masih belum
> jelas.
>>
>>
>> Perjalanan Berikutnya
>>
>>
>> Akhir tahun 1997, saya kembali ke Indonesia di tengah badai krisis
> moneter. Kegagalan membuat bisnis di Kanada tersebut tidak membuat
> saya jera. Saya coba kembali membuat beberapa usaha di Indonesia.
>>
>>
>> Konsultan: Insan Komunikasi, Insan Infonesia
>>
>>
>> Sebelum pulang ke Indonesia, kami sempat mendirikan sebuah
> perusahaan yang memfokuskan diri ke jasa konsultasi teknologi
> informasi dengan nama Insan Komunikasi (dimana ada kemiripan nama
> dengan Iscom) yang kemudian akhirnya berganti nama menjadi Insan
> Infonesia. Kali ini kami memulai dari keluarga sendiri dengan
> langkah yang perlahan-lahan. Perusahaan ini sampai sekarang masih
> bertahan, meski masih kecil. Mudah-mudahan perusahaan ini bisa
> menjadi contoh sukses.
>>
>>
>> Venture Capital: INDOCISC
>>
>>
>> Bisnis dotcom mulai meledak di tahun 1999 dan 2000. Muncullah
> entity yang bernama venture capital di dalam peta bisnis Information
> Technology (IT) di Indonesia. Venture capital sendiri sebetulnya
> bukan sesuatu yang baru di dunia IT. Namun di Indonesia, ini masih
> sesuatu yang baru. Saya pun kemudian terbujuk untuk mencoba usaha
> dengan bantuan venture capital dari Korea. Tadinya saya tidak
> berkeinginan untuk membuat usaha ini karena toh sudah ada perusahaan
> (Insan Komunikasi, lihat bagian sebelumnya). Namun akhirnya saya
> tertarik juga untuk mencoba bekerja-sama dengan venture capital.
> Mulailah kami membuat badan usaha yang bernama INDOCISC dengan
> bidang: community system development dan security. (Pada akhirnya
> kami memfokuskan pada bidang security.)
>>
>> Dari INDOCISC ini kami juga mengembangkan badan usaha lain yang
> bergerak dalam bidang pengembangan komunitas dan SDM, serta
> penempatan SDM IT di luar negeri. Sayangnya badan usaha lain ini
> tidak berjalan dengan semestinya. Hal ini disebabkan karena:
>>
>> * Kurangnya orang yang fokus dalam penjalankan bisnis
> tersebut. Kesulitan mendapatkan SDM yang dapat menjalankan bisnis
> merupakan salah satu kendala besar. SDM yang berkutat di bidang
> teknis tidak terlalu masalah (meskipun masih kekurangan juga);
>> * Jatuhnya bisnis dotcom (bubble bust) di seluruh dunia
> sehingga membuat banyak perusahaan IT tutup;
>> * Ketidak-cocokan antar pendiri dan pemegang saham. Ketika
> masalah muncul, maka mulai nampak karakter dari masing-masing.
> Kecocokan pada tahap awal belum menjadi jaminan akan cocok terus.
> Hal ini sudah berulang kali terjadi.
>>
>> INDOCISC sendiri akhirnya memfokuskan diri dalam bidang security
> dan tidak menangani lain-lainnya (meskipun kami bisa). Adanya fokus
> ini ternyata membawa berkah karena dia menjadi dikenal dalam bidang
> security. Untuk pekerjaan yang non-security, INDOCISC bekerjasama
> dengan perusahaan-perusahaan lain yang lebih fokus dan kompeten di
> bidangnya. Misalnya, jika ada yang menawarkan pekerjaan untuk
> melakukan desain web, kami sarankan untuk menghubungi partner kami
> yang memang fokus kepada usaha tersebut. Pelajaran baik yang dapat
> dipetik:
>>
>> * Fokuskan pada satu bidang atau kompetensi tertentu. Jangan
> mau semua (meskipun bisa). Dalam bahasa Inggris dikenal
> peribahasa: “Jack of all trades, master of none”.
>> * Giat dalam bidang Research & Development (R&D). Kami tahu
> bahwa kekuatan dari kami adalah pada sisi R&D nya.
>> * Dekat dengan perguruan tinggi merupakan salah satu
> keuntungan untuk mendapatkan SDM (untuk melakukan R&D), teknologi,
> dan ide-ide. Perguruan tinggi merupakan tempat yang relatif aman dan
> murah untuk menguji dan mengeksplorasi ide. Mahasiswa merupakan
> tenaga murah yang dapat dilibatkan dalam pengembangan. Sementara itu
> mahasiswa senang dilibatkan karena dia mendapatkan pengalaman
> industri yang nantinya bisa menjadi track record dia ketika dia
> selesai.
>>
>>
>> Pengamatan lain dalam perjalanan ini
>>
>>
>> Selain mendirikan perusahaan, saya masih aktif mengajar dan
> meneliti di perguruan tinggi. Dalam pergaulan di kampus dan dengan
> industri ada beberapa komentar yang dapat saya tangkap:
>>
>> * Kadang-kadang perguruan tinggi menjadi pesaing bagi industri
> kecil dan menengah. Ini dianggap kurang fair bagi entrepreneur.
> Bukannya mereka dibantu, mereka malah disaingi oleh perguruan
> tinggi. Ada istilah entrepreneur university yang menurut saya agak
> keliru. Ternyata yang dimaksud dengan entrepreneur university adalah
> sang perguruan tinggi-nya lah yang menjadi entrepreneur. Padahal
> seharusnya mahasiswanya, lulusannya, dan mungkin dosennya yang
> didorong dan didukung untuk menjadi entrepreneur, bukannya malah
> ditandingi. Situasi ini tidak kondusif.
>> * Beberapa perguruan tinggi mengungkapkan ingin mendorong
> mahasiswanya untuk menjadi entrepreneur. Namun pada kenyataannya
> belum ada laboratorium atau kurikulum yang mendukung ke arah sana.
> Jadi pernyataan atau keinginan tersebut masih terbatas pada lip
> service. Hal ini perlu diubah jika memang perguruan tinggi serius
> ingin menciptakan entrepreneurs.
>> * Perguruan tinggi masih belum serius dalam mengijinkan
> stafnya (dosen) untuk terjun membuat usaha (menjadi entrepreneur).
> Perlu dibedakan antara dosen yang mengerjakan proyek (mroyek) dan
> dosen yang ingin mengembangkan industri dimana dia merupakan salah
> satu pemain di industri tersebut. Keduanya masih dianggap sama.
> Padahal yang terakhir ini bisa menciptakan lapangan pekerjaan dan
> menjadi contoh nyata (riil) bagi mahasiswa. Kesuksesan seorang dosen
> masih diukur dengan ukuran konvensional (seperti jumlah makalah).
>> * Belum adanya insentif dan program dari Pemerintah. Yang ada
> baru program-program yang sekedar “wah” (sehingga nama pejabat yang
> bersangkutan dikenal) namun tidak memiliki visi dan langkah yang
> jelas dan nyata bagi pelaku bisnis.
>> * Kebanyakan mahasiswa masih berjiwa “ingin kerja ke
> perusahaan orang lain”. Opsi mengembangan usaha sendiri baru muncul
> belakangan ini dan masih belum populer.
>>
>>
>> Pelajaran Yang Diperoleh
>>
>>
>> Pada bagian ini saya ingin merangkumkan pelajaran yang kami
> peroleh dalam mendirikan menjalankan start-up. Beberapa sebab
> kegagalan, antara lain:
>>
>> * Teknologi dan produk yang dihasilkan terlalu advanced
> sehingga belum diminati. Biasanya produk ini di-drive oleh para
> insinyur (techie, engineers).
>> * Belum ada inisiatif dari Pemerintah Indonesia untuk membantu
> industri kecil seperti ini. Bahkan, ada “gangguan” seperti
> perpajakan untuk perusahaan yang baru tumbuh. Seharusnya ada
> inisiatif untuk membantu industri kecil dengan menangguhkan
> perpajakan sampai perusahaan yang bersangkutan benar-benar stabil
> (misalnya dengan membebaskan dari pajak sampai 10 tahun seperti
> dilakukan di Malaysia atau Taiwan). Adanya insentif ini membuat
> pelaku bisnis semangat untuk melakukan investasi dan membuka
> lapangan kerja. Topik ini merupakan hal yang penting dan perlu
> dibahas secara terpisah.
>> * Belum ada bantuan dari Pemerintah Indonesia, seperti halnya
> adanya program IRAP (Industrial Research Assitance Program) di
> Kanada. Program bantuan yang ada masih bersifat proyek yang selesai
> setelah dana berhenti. Industri kecil terpaksa belajar sendiri dari
> kegagalannya. Jika digabungkan kegagalan-kegagalan yang dialami oleh
> semua industri kecil, jumlahnya akan besar. Ini merupakan pelajaran
> yang sangat mahal.
>> * Kurangnya SDM yang dapat menjalankan bisnis (bukan sisi
> teknis) yang mengerti teknologi. (Kemana saja lulusan ekonomi dan
> management?)
>> * Keharmonisan antara pendiri, pemegang saham, dan yang
> menjalankan bisnis belum tentu langgeng. Perlu dibuatkan aturan main
> (sistem) yang disepakati bersama pada awalnya sehingga tidak terjadi
> perpecahan di tengah jalan.
>> * Kehebatan teknis bukan menjadi jaminan kesuksesan sebuah
> bisnis.
>>
>> Sementara itu pelajaran lain yang diperoleh dari usaha mendirikan
> start-ups antara lain:
>>
>> * Pendirian usaha biasanya dimulai dari beberapa orang yang
> memiliki ide. Kemudian pendanaan dimulai dari beberapa orang ini
> ditambah dari kawan-kawan. Istilah yang umum adalah dari “friends
> and family”. Nampaknya ini adalah rule of thumb dalam mendirikan
> start-up. (Banyak buku yang membahas hal ini dan teori yang ada di
> buku tersebut memang benar karena telah saya alami.)
>> * Fokus kepada satu bidang atau kompetensi merupakan salah
> satu kunci kesuksesan. Jangan rakus dan mau semua.
>> * Orang teknis sebaiknya diberi bekal atau pengetahuan
> (wawasan) tentang bisnis. Pendidikan di perguruan tinggi yang
> memiliki jurusan teknis perlu diubah untuk mengakomodasi hal ini.
>>
>>
>> Kesimpulan
>>
>>
>> Mendirikan sebuah usaha start-up ternyata tidak mudah. Banyak hal
> yang tidak diketahui pada saat mendirikan perusahaan. Banyak
> perusahaan start-up yang mati di tengah jalan dikarenakan berbagai
> alasan yang telah diuraikan pada tulisan ini.
>>
>> Saya pribadi masih terus belajar (dan siap jatuh bangun)
> mengembangkan bisnis yang bernuansa teknologi. Mudah-mudahan apa
> yang saya jalankan dapat menghasilkan sesuatu yang sukses besar
> sehingga dapat dijadikan contoh untuk memotivasi calon-calon
> entrepreneur baru.

Juli 13, 2007 at 6:07 am 3 komentar


Kalender

Juli 2007
S S R K J S M
     
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Pos Berdasarkan Bulan

Posts by Category


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.